Onani Master Kurosawa – After Story: Meranjak Dewasa – Bagian 2

Penerjemah : Kronous

Itu terjadi pada pagi yang menyegarkan di hari liburku. Aku diganggu oleh keluhan yang datang dari ponsel ku.

Dihari kedua perjalanan kami, kami berencana untuk menghabiskan hari di Universal Studios Japan, dan dari pagi sampai malam kami akan menikmati diri kami sendiri sepenuhnya.

Mengunjungi tempat ini memang populer di kalangan mahasiswa selama perjalanan sekolah, dan bagi ku, ini adalah tempat dengan banyak kenangan yang mendalam. Tentu saja, semua dari Orde Black Knights telah menantikan untuk mengunjungi ini kembali. Ini tidak akan berlebihan untuk menyebutnya pusat dari perjalanan kami kali ini.

Namun…

Ada apa dengan suasana canggung ini?

Sejak apa yang terjadi semalam, sepertinya roda gigi antara Nagaoka dan Takigawa tidak lagi cocok bersama dengan baik; bahkan Pizza-ta, yang biasanya bersifat sederhana, tampaknya kebingungan oleh perubahan aneh yang terjadi di antara keduanya. Kitahara memiliki ekspresi yang biasa, bahkan aku tidak bisa mengatakan apa yang dipikirkannya. Karena aku tahu rahasia semua orang, aku benar-benar tidak tahu bagaimana aku harus berinteraksi dengan Nagaoka, Takigawa, dan Pizza-ta.

Sebelum memasuki pintu gerbang, ada suasana di sekitar semua yang seolah kami baru saja menonton film yang sungguh membosankan bersama-sama. Perasaan itu berlanjut untuk sementara waktu.

“Heeey, Seki-dono! Di sana ada papan iklan dari orang yang terkenal di internet, Spider-Man~”

“Hei, hei, Kitahara-san, ada Snoopy! Dia sangat lucu!”

“In-ini sedikit panas… jadi, aku akan pergi makan es krim dan beristirahat… ah, tidak, aku akan kenaikan berat badan.”

Semua orang bersikap seolah-olah mereka sedang menikmati diri mereka sendiri, tapi seperti yang kupikir, entah bagaimana kebahagiaan itu tampak berongga. Semakin semuanya memaksakan diri mereka untuk menjadi bahagia, semakin kami tampak berantakan sebagai sebuah kelompok. Karena ini di tengah Golden Week, taman ini penuh dengan orang-orang yang menikmati diri mereka sendiri. Mengapa hanya kami yang berperilaku begitu canggung?

“…Ini cukup canggung.”

“Pastinya.”

Satu-satunya orang disekitar yang aku bisa biarkan begitu saja adalah Kitahara si mulut pedas (sarkastik). Fakta bahwa kami berdua tahu rahasia orang lain adalah satu-satunya hal yang kami miliki bersama.

Sambil kami makan siang di sebuah restoran, pikiran berputar-putar di kepala ku tentang apa yang harus dilakukan. Di atas segalanya, apa yang harus dengan cepat dirubah adalah hubungan antara pemimpin kelompok kami, Nagaoka dan Takigawa. Dengan keduanya bertindak seperti ini, disana tidak mungkin bahwa mesin semua orang akan dinyalakan.

Dengan begitu mungkin, masalah diantara keduanya bukanlah sesuatu yang dapat diselesaikan hanya dalam sehari. Itulah mengapa halnya masih tegang di antara mereka, meskipun malam itu mereka telah memperdebatkannya. Selain itu, ini benar-benar bukan sesuatu yang aku dapat campur tangani.

Dan begitu, inilah bagaimana halnya memburuk. Pada akhirnya, tanpa menemukan solusi, kami kembali mengunjungi atraksi.

“Ah, lihat, karyawan disana menjual jas hujan. Ini akan buruk jika kita sampai basah kuyup lagi. Kitahara-san, mari kita pergi membeli beberapa sebelum kita sampai menuju ke Jurassic Park!”

Takigawa…!!

Tidak hanya kau sudah membuat hal menjadi canggung, kau akan mencuri kesenangan terbesar ku juga…?! Tolong, beri kemudahan…!

Keinginan ku tidak dikabulkan, dan jam berlalu dengan kejam.

Jika kami tidak meninggalkan taman pada pukul 17:30, maka kami tidak akan dapat pulang dengan kereta peluru. Pada pukul 16:30, kami memutuskan untuk sebuah tempat pertemuan, dan pergi dengan jalan kami sendiri untuk mengunjungi toko-toko suvenir.

Aku adalah orang pertama yang tiba di tempat pertemuan yang ditunjuk.

Aku tidak berpikir bahwa ada banyak orang yang akan gembira menerima suvenir dariku. Kebanyakan suvenir di dalam kantong kertas ini adalah untuk Sugawa. Aku tidak bisa menebak apa yang akan membuatnya bahagia, sehingga memilih barang itu cukup merepotkan. Untuk saat ini, aku hanya mengisi keranjang belanja dengan barang yang seseorang bisa pajang di kamar mereka, atau sesuatu yang bisa dimakan keluarga, dan waktu berlalu dalam sekejap.

Aku berpikir apa yang bisa aku berikan pada Sugawa untuk membuatnya bahagia. Aku tidak merasa bahwa memberinya suvenir akan cukup untuk mengembalikan kebaikannya, tapi itu satu-satunya hal yang aku bisa pikirkan.

Dengan putus asa, aku duduk di bangku pada tempat pertemuan dan memeriksa kotak masuk ku lagi.

Tidak ada balasan pada e-mail yang ku kirim kemarin maupun yang aku kirim hari ini. Ini bisa menjadi penuh sesak kebencian. Kenapa sih ini begitu mudah untuk membuat orang marah, dan sangat sulit untuk membuat mereka tersenyum? Aku tidak mengerti teori di balik cinta, dan semua yang aku lakukan gagal.

Menatap perlahan awan di langit, aku menghela nafas.
Ketika aku lakukan, aku mendengar suara yang akrab dan indah di depanku.

“Apa yang mengganggumu, Bocah Sastra?”

“Takigawa…”

Dia tersenyum padaku sambil menggenggam kantong kertas besar yang tangannya nyaris tidak bisa melingkarinya.

Takigawa mengambil tempat duduk di sebelahku, dan bergumam “Haa~ Aku lelah.” Dia kemudian meletakan kakinya pada beban besar nya dengan suara berdebam.

“Aku membeli sesuatu untuk semua teman-temanku, sehingga akhirnya menjadi banyak barang. Aku akan minta mereka dikirimkan nanti.”

“Mana Nagaoka? Bukankah dia bersama mu? ”

“Ya. Aku ingin memikirkan sesuatu, jadi aku meninggalkannya dan datang ke sini duluan.”

“Aku mengerti…”

Meskipun kami sudah bersama selama dua hari, rasanya seperti ini sudah agak lama sejak ini hanya kami berdua berbicara bersama. Biasanya, karena dia selalu dengan Nagaoka, kami tidak memiliki sangat banyak kesempatan untuk berbicara dengan bertatap muka. Entah bagaimana, ini terasa cukup nostalgia.

“Apakah kau memikirkan Nagaoka?”

Saat aku bertanya, Takigawa tampak terkejut, dan berkata, “Bagaimana kau tahu?”

“Aku tahu hanya dengan melihat.”

“Tampaknya rahasia terbongkar, ya?”

“Ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkannya lagipula.”

Setelah aku mengatakan itu, Takigawa menambahkan, “Kurasa aku tidak sebanding untuk mu,” dan tertawa dengan malu-malu.

Nagaoka dan Takigawa adalah tipe orang yang tidak pandai berbohong atau menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Itu sebabnya, terlepas dari apapun rinciannya, ketika sesuatu terjadi di antara mereka berdua, itu cukup mudah bagi orang luar untuk mengetahuinya. Karena itu, ketika aku akan mendekati mereka pada hari berikutnya seolah untuk menilai mereka seperti CERO, berlawanan dengan betapa bahagianya mereka terlihat, akulah orang yang hatinya akan tenggelam.

Bagaimanapun, karena mereka berdua, aku bisa tertawa dan terhubung ke orang lain. Karena mereka ini pasangan kikuk yang tak bisa hanya mengesampingkan hal, mereka berharga bagiku.

“Kurosawa-kun, apa yang mengganggu mu? Itu tampak seperti kau menghela.”

“Apakah terlihat seperti ada sesuatu yang mengganggu ku?”

“Sepertinya begitu. Ini tentang Sugawa-san, kan? Ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkannya lagipula~ ”

“Sepertinya aku tidak sebanding untuk mu.”

Senyum merayap keluar secara spontan. Suasana hati murung dari sebelumnya tidak lagi jadi kekhawatiran bagi ku.

Secara alami, apa yang dihasilkan adalah aku mengatakan pada Takigawa tentang pertengkaran yang terjadi antara Sugawa dan aku. Bagaimana aku tidak memberitahu Sugawa tentang perjalanan kami kali ini sampai sebelum aku pergi. Bagaimana itu telah menyinggungnya. Bagaimana aku belum mendengar kembali darinya. Aku mengakui semuanya.

Daripada diskusi serius tentang cinta, ini terasa seolah-olah kami sedang punya obrolan menyenangkan di sebuah kafe. Cara perasaan asliku muncul dengan lancar keluar dari mulutku hampir seolah aku sedang membaca keras-keras dari sebuah buku. Setelah aku selesai, Takigawa memikirkannya untuk sementara waktu, memasang wajah lemah lembut, dan berkata datar:
“Itu adalah salahmu, Kurosawa-kun.”

Aku tidak mendunganya untuk bersimpati denganku atau apa, tapi setelah itu ditegaskan begitu jelas padaku agak mengejutkan dengan caranya sendiri.

“I-itu…?”

“Itu benar. Perjalanan ini mungkin tidak ada hubungannya dengan Sugawa-san, tapi kau harus menceritakan tentang hal-hal penting seperti ini sebelumnya. Dan bukan saat malam sebelumnya!”

Yah, sepertinya aku telah menyadari kesalahan dari cara ku. Meski begitu, aku punya perasaan bahwa kemarahan Sugawa terasa berbeda dari biasanya. Meskipun demikian, meskipun Takigawa mengatakan kepada ku bahwa “Dia hanya merajuk,” mungkin tidak menerima sebuah balasan untuk e-mail ku merupakan hasil dari dirinya yang hanya bersikap kekanakan, atau mungkin dia melakukannya dengan sengaja…

“Ini tentu saja cemburu. Aku pikir dia mungkin frustrasi karena Kurosawa-kun berhubungan baik dengan kami, dan sepertinya dia sedang ditinggalkan.”

“Ah…”

Oh, begitu.

Setiap kali aku berbicara tentang Takigawa dan yang lainnya pada Sugawa, dia akan selalu memasang wajah tampak bosan dan hanya memberikan balasan acuh tak acuh seperti “Uh-huh,” dan “Benar.” Bukan karena dia tidak punya minat pada teman-teman ku, melainkan lebih karena dia tidak bisa benar-benar melalui cangkangnya dan menunjukkan sisi kesepiannya. Itu sebabnya pada pagi hari perjalanan, dia melakukan sesuatu yang gila seperti menelepon ku dan mengatakan “Bawa aku bersamamu-!”

Bagiku, jika aku melihat Sugawa semakin ramah dengan cowok lain dan men, aku akan merasa tidak enak. Dada ku mungkin akan mulai terasa sakit, dan aku akan merasa seperti dia tiba-tiba pergi jauh dan lebih jauh dariku.

Aku sungguh tidak menyadari hubungan manusia begitu sederhana sampai hal itu ditunjukkan kepadaku. Bahkan setelah membaca semua buku, dan menjadi sanggup sampai ke putaran ketiga untuk penghargaan sastra pendatang baru, tidak tahu bagaimana hubungan antarmanusia berfungsi benar-benar menunjukkan betapa banyak pemulanya aku dan betapa banyak pengalamanku yang masih kurang.

“Ah, ya ampun. Kalau sudah seperti ini, maka tidak peduli berapa banyak waktu berlalu, aku bahkan tidak akan mampu berpegangan tangan, apalagi bahkan mendapatkan ciuman…”

“Uh, aku tidak yakin apakah itu berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapi…”

Menyerahkan ini pada Takigawa untuk membuat kami keluar dari situasi yang tidak nyaman ini dengan senyum pahit dan kata-kata itu.
“Nah, bagaimana aku harus mengatakan ini? Kau harus benar-benar menjaga orang yang bersamamu.”

Takigawa berdiri tegak seolah-olah dia telah membulatkan tekad pada sesuatu, membentang, dan bergumam seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri, “…Aku harus, juga.”

Tatapannya tertuju pada Nagaoka dan yang lainnya, yang datang kepada kami membawa kantong kertas penuh suvenir. Aku agak enggan untuk berhenti, tapi tampaknya percakapan kami akan segera berakhir di sini.

Bagaimanapun, aku harus mengatakan satu terimakasih terakhir untuk telah mendengarkan cerita ku.

“Hei, Takigawa.”

“Apa?”

Takigawa yang berbalik menghadap padaku punya senyum yang dipenuhi dengan mistik tertentu, seolah itu entah bagaimana muncul dalam sebuah lukisan. Seperti yang aku pikir, memasang wajah serius cocok untukku lebih daripada yang dia lakukan.

“Terima kasih untuk mendengarkan. Kau mencoba yang terbaik, juga.”

“…Ya.”

Pada akhirnya, itu saja yang bisa kukatakan.
Bahkan mengetahui keadaan antara Nagaoka dan Takigawa, aku tidak dapat menemukan solusi.
Namun, dengan waktu yang cukup, aku yakin bahwa dia akan mampu membuat kompromi. Selain itu, pasangannya adalah Nagaoka. Dia pasti akan menyelesaikan masalah lebih baik dari pihak ketiga sepertiku yang membiarkan imajinasinya berjalan liar. Istilah “konflik” dan “konfrontasi” benar-benar hanya tidak cocok dengan mereka berdua.

Respon kata tunggal tersebut lebih dari cukup untuk meyakinkanku.

Kami menutup perjalanan kami dengan mengambil foto kenang-kenangan.

Lima orang, berdiri berbaris, di dalam lapangan taman hiburan. Sebuah bangunan dalam latar belakang memampilkan tulisan “Universal Studios Japan”.

Susunan ini terlihat cukup akrab, bukan?

Sejujurnya, alasan mengapa kami merencanakan perjalanan ini adalah untuk mengambil gambar ini.
——Sejak hari itu sebagai seorang siswa sekolah menengah tahun ketiga, ini sudah jadi impianku.

Ketika perjalanan pulang di kereta peluru, aku mencoba menelepon Sugawa dari ruang redup yang menghubungkan gerbong kereta.

Setelah beberapa saat menahan nafas untuk menyimak nada dering, layanan pesan suara pun masuk.

Aku ingin tahu di mana Sugawa yang sekarang, dan apa yang dia lakukan. Aku ingin tahu apa pendapatnya tentangku. Setelah aku mulai khawatir, keresahan ini belum berhenti. Aku tidak tahu bahwa tanpa mengetahui kesibukannya dengan baik dan mendapati komunikasi kami terputus akan sangat menyakitkan bagiku. Mulai sekarang, aku akan dengan benar memberitahunya tentang semua masalahku, terlepas dari sebagaimana sepelenya itu.

“Uh… Hello, ini Kurosawa. Saat ini, aku di kereta peluru; Aku pikir aku akan sampai sekitar pukul 20:30. Aku masih belum makan malam. Jika tak apa denganmu, mari kita pergi ke suatu tempat bersama dan makan. Aku akan menunggu jawabanmu.”

Sebelum aku punya waktu untuk berpikir, aku telah mengatakan hal seperti itu ke dalam layanan pesan suara. Itu tidak berjalan selancar yang aku inginkan, tapi aku telah melakukan semua yang aku bisa.

Aku menaruh ponsel ku kembali ke saku celana ku, dan kembali ke tempat semuanya duduk.

Aku duduk menghadap baris kursi ketiga, di mana semuanya terkantuk dan mendengkur. Semuanya menikmati diri mereka sendiri sampai kelelahan dan tertidur, seperti pada perjalanan sekolah.

Semua kecuali Kitahara, yang tetap terjaga, sama seperti terakhir kali.

Meskipun ia memandang ke luar jendela pada pemandangan yang lewat seolah dia tidak berbicara kepada ku, aku tidak melakukan sedemikian rupa.

“…Hei, Kitahara.”

“Apa?”

“Apakah kau tahu alamat e-mail ponsel Pizza-ta?”

Kitahara menggelengkan kepalanya dari satu sisi ke sisi lain seolah dia sedang kesal.

Aku sudah tahu bahwa kau tidak suka Pizza-ta atau apa pun. Aku tidak mengatakannya dengan niatan semacam itu didalam pikiran.

“Kalau begitu, aku akan mengirimkanmu alamat Pizza-ta sekarang.”

Saat aku mulai mengutak-atik ponsel ku, Kitahara bertanya dengan suara yang ragu-ragu:
“…Mengapa kamu melakukan itu?”

“Tak apa jika kau tidak menyukainya. Hanya tetap berhubungan dengan nya sesekali.”

Itu hanya permintaan ku.

Tak terduga ini sulit untuk dihadapi dengan menjadi terpisah dari orang yang penting bagi mu.
Bahkan hanya tidak berkontak untuk satu atau dua hari sudah cukup untuk membuat aku gelisah. Belum lagi membahas penderitaan tinggal di kota yang jauh dari orang terpenting itu akan menjadi seratus bahkan dua ratus kali lebih buruk.

Ini mungkin hanya aku yang ikut campur, tapi aku tidak ingin Pizza-ta harus melalui perasaan itu.

“…Nah, jika itu hanya sesekali…”

“Silakan.”

Aku memeriksa untuk memastikan bahwa Kitahara telah menerima e-mail, dan kemudian dengan lembut menutup mataku.

Oh, ya ampun. Apakah dipenuhi dengan kecemasan itu akibat dari tidak tidur dengan baik…? Aku rasa kesadaranku sudah mencapai batasnya.

“B-baiklah maka, disinilah aku berpisah. Selamat tinggal.”

Setelah kembali ke kota kami tinggal, kami semua kembali ke rumah masing-masing. Setelah berjalan bersama-sama dengan semuanya untuk sementara waktu, yang pertama untuk mengucapkan selamat tinggal adalah Pizza-ta. Itu sama seperti biasa; ia memberikan sedikit bungkukan pada kami, dan kemudian berpaling dari kami.

Setiap orang melambaikan tangannya untuk mengirim Pizza-ta pergi seperti dia larut dalam malam.

“Aku akan berpisah dengan kalian di sini. Dua hari terakhir ini terasa SANGAT menyenangkan~! Sampai kita bermain lagi lain kali!”

“Kalau begitu, aku akan berpisah di sini juga. Kurosawa-dono, Kitahara-dono, terima kasih banyak untuk dua hari terakhir ini~ ”

Jumlah anggota Orde Black Knights berkurang lagi, ketika Takigawa dan Nagaoka pergi. Saat mereka pergi, aku bersumpah kepada diri sendiri bahwa aku akan melihat mereka lagi segera. Kita hidup di kota yang sama. Aku bisa melihat mereka kapan saja aku mau.

Namun, suatu hari, setiap orang akan pergi dengan jalan mereka masing-masing.

Pizza-ta pindah ke Kyoto tahun depan. Berbicara tentang masa depan, itu tidak terlalu jauh. Tahun depannya lagi, Takigawa akan lulus SMA, dan dia bilang dia akan pindah ke prefektur lain. Satu tahun, dua tahun; itu semua terlewat dalam sekejap mata.

Tidak ada jaminan bahwa aku akan bersama Nagaoka dan Kitahara selamanya, lagipula. Hari itu mungkin akan datang ketika kita sudah mengatakan satu sama lain, “Kita akan bertemu lagi.”

Disana mungkin akan ada hari ketika aku merasa sangat sedih ketika aku melambaikan tanganku untuk mengirim mereka pergi.

Pada kincir raksasa, dimana Pizza-ta berani mengaku pada Kitahara.
Pertengkaran yang diluar karakter antara Takigawa dan Nagaoka atas suatu hal yang penting.
——Kedua situasi itu bukan hanya sekedar masalah orang lain saja.

“Ini akan menjadi sangat sepi…”

Aku tiba-tiba menggumamkan itu pada Kitahara, yang berjalan perlahan-lahan di samping ku. Tak terduga, dia adalah orang terakhir yang tetap bersamaku dalam perjalanan pulang.

Aku merasakan sesuatu yang nostalgia. Aku ingat bahwa setengah tahun yang lalu, kami telah berjalan-jalan di malam hari dengan cara yang mirip, dengan aku mendorong sepeda.

“Kenapa kau akan jadi kesepian? …Itu konyol, Kurosawa-kun.”

Melihat Kitahara memiringkan kepalanya dalam berpikir, yang membuatnya tampak sangat seperti tupai, aku tanpa sadar tertawa terbahak-bahak.
——Kitahara benar-benar tidak berubah, ya kan. Meskipun kepribadiannya agak menyimpang, dan dia cenderung menggunakan bahasa yang menyakitkan lebih dari orang normal, dia menunjukkan ku sisi ke gadisan nya.

“Ah, bukan apa-apa. Sampai jumpa.”

“Oke. Selamat tinggal.”

Aku juga harus melambaikan tanganku pada perpisahan disini.

Pada akhirnya, aku sendirian.

Saat aku berjalan pada jalan ini di malam hari gemilang dalam kesedihan, rute kembali ke rumah tampak lebih lama dari biasanya. Kepala dan bahu ku menjadi lelah karena tas yang menggantung di bahu ku dan berat kantong kertas yang berisi semua suvenir yang aku bawa di tanganku. Segini singkat, perjalanan dua hari + satu malam telah membuat tubuhku tegang bahkan sampai ke tulang.

Tetapi yang lebih kuat dari rasa lelah adalah rasa kesepianku.

Saat-saat bahagia ini akan berakhir suatu hari nanti. Mimpi seperti hari ini, di mana kita semua bisa berbaris dan mengambil gambar bersama-sama, tidak akan mungkin di masa depan. Kenyataan itu membuat ku merasa lebih kesepian daripada biasanya.

Para anggota Orde Black Knights telah menjadi teman sejati yang tak tergantikan untuk pecundang seperti ku. Aku bahkan tidak ingin berpikir untuk terpisah dari mereka.

Pada akhirnya, aku tidak menerima sebuah balasan dari pesan yang aku tinggalkan pada layanan pesan suara Sugawa. Pada awalnya aku tidak memikirkannya, tapi sebelum aku tahu itu, telepon tak berderingku telah menjadi cukup menyayat hati.
Aku benar-benar pecundang…

Saat aku memikirkan itu sambil berjalan, sesuatu memasuki bidang penglihatanku dan memanggilku, yang mana membawa aku untuk berhenti.

“Hanya dalam waktu dua hari, wajah mu telah menjadi cukup menyedihkan, bukan? kau bocah masturbasi bajingan!”

Dengan lega, aku berbalik. Bukan hanya aku merindukan itu. Itu adalah suara kasar yang aku telah tunggu-tunggu. Di atas pagar yang memisahkan taman dari jalan, gadis ini, mengayunkan kaki putih pucatnya maju mundur dengan nikmatnya…

“Sugawa!”

“Untuk apa kau berjalan perlahan?! Kau idiot, kau bertingkah lambat. Aku pikir aku akan harus menunggu selamanya!”

Aku begitu sangat merindu cara berterus terang seperti itu. Aku entah bagaimana merasa bahagia, dan seperti hati ku akan runtuh. Semuatan kapal pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya, seperti tentang mengapa dia ada di sini, semua terbang menghilang begitu saja saat aku melihatnya.

Di tengah jalan yang redup, Sugawa diterangi oleh lampu jalan, dan itu tampak di mataku seperti itu adalah sebuah lubang yang disisihkan dari kegelapan di sekitarnya.

Sugawa melompat dari pagar yang dia sedang duduki, dengan tangannya menyangkut dalam kantong jaketnya; sebuah senyum kecil muncul di mulutnya.

“Selamat datang kembali.”

“Aku pulang.”

Karena Sugawa mengatakan bahwa dia lapar, kami berlanjut untuk pergi makan malam. Setelah beberapa diskusi, kami memutuskan pada grobak ramen terdekat. Atau lebih tepatnya, itu dia yang terus-menerus mengulangi “Gerobak itu tak apa, gerobak itu tak apa” dan mendorong ku. Itu selalu saja berakhir seperti ini. Bahkan jika aku mengundangnya ke sebuah restoran dengan suasana yang baik, dia mungkin akan terlalu malu untuk mengatakan sesuatu. Itu juga ciri khas dirinya.

Sepertinya dia tidak benar-benar menunggu di taman dengan maksud untuk mengejutkan ku. Sugawa menjelaskan, “Bahkan jika orang lain datang untuk menjemputmu, aku tadi hanya bosan.” Meski begitu, itu pasti akan jadi menyenangkan jika dia bisa setidaknya mengirimi ku sebuah e-mail.

Saat kami duduk bersama di meja polos grobak sambil menunggu pesanan ramen kami akan selesai, kami berbicara bersama sambil ditenggelami dalam uap.

“Maafkan aku, itu salahku. Mulai sekarang, aku akan bercerita tentang hal-hal penting terlebih dahulu.”

“Nah, aku memang kekanak-kanakan. Aku tidak marah lagi.”

Sugawa melanjutkan dengan mengatakan itu, memalingkan matanya dariku, dan menunduk menatapi butir kayu di meja.

“Aku k-kira sepertinya aku merajuk sedikit. Tapi… yah… umm… err, aku kira aku sedikit melebih-lebihkannya.”

Menakjubkan. Sepertinya Takigawa mengenai jackpot dengan prediksinya. Berbeda dengan bagaimana mereka tampak, ini seperti mereka berdua bisa terhubung pada masalah ini karena mereka berdua perempuan, pada akhirnya.

“T-tetapi yang lebih penting!”

Dengan rona merah samar muncul di wajahnya, Sugawa mengubah topik pembicaraan. Dia bertanya padaku bagaimana perjalanan ku. Menaruh secara jujur, “Banyak hal terjadi, tapi itu menyenangkan,” adalah bagaimana itu barakhir.

“Ah, benar. Aku membeli banyak suvenir.”

“…Apa, aku tidak bertanya tentang itu!”

“Semua barang di dalam kantong kertas ini adalah untukmu.”

Mengatakan demikian, aku menyerahkan tas ke Sugawa saat itu. Sebuah boneka binatang, permen, dan segala macam hal membuat kantong kertas menonjol di tempat-tempat aneh. Itu adalah hasil dari semua usahaku. Ini akan menyenangkan jika dia menerimanya dengan senang hati.

Membuka tas dan melihat ke dalam, Sugawa mengerutkan kening.

“Uwah, apa-apaan dengan boneka binatang jelek ini? menjijikan! Dan dari semua hal, kau mendapati ET?! Selera apa yang kau miliki… ini tidak seharusnya menjadi karung hadiah misteri, kau tahu. Kau benar-benar membeli terlalu banyak! ”

Sungguh kritikan pedas. Aku tahu itu akan datang, tapi dadaku masih terasa sedikit sakit.
Namun…

“Tapi, terima kasih.”

Dengan satu kata, segala sesuatu menjadi baik-baik saja.

Setelah percakapan tentang suvenir, kami berdua makan ramen. Ketika percakapan menjadi lebih hidup, sebelum aku tahu itu, ramenku telah menjadi lembek. Bagaimanapun, ramen ini yang aku bisa makan bersama dengan Sugawa lebih lezat daripada makanan ahli pencicip yang kau bisa dapatkan di Osaka.

Kami berdua melanjutkan di jalan menuju rumah.

Sebelum aku tahu itu, aku tidak lagi bisa merasakan kelelahan di bahuku. Mungkin karena aku memiliki perut penuh dan kekuatanku telah kembali… nah, aku tidak bisa mengatakan sesuatu yang bodoh seperti itu. Ini semua karena gadis ini berjalan di samping ku.

Setelah menyelesaikan perdebatan kami sebelumnya dan berbicara tentang suvenir, kami berdua menjadi agak pendiam. Aku diam-diam berjalan ke arah yang salah. Sugawa mengisap rokok dengan sikap bosan, seperti biasa.

Sepanjang jalan, aku membawa sesuatu yang aku telah pikirkan selama percakapan kami di gerobak.

“Mari kita melakukan perjalanan selama liburan musim panas.”

“Eh? k-kita berdua?”

Suara Sugawa meningkat dan terdengar sedikit di luar kendali. Aku tidak berpikir kau harus BEGITU terkejut.

Menjaga orang yang bersama mu… itulah apa yang Takigawa telah katakan kepadaku, kan? Itu sama seperti yang ia katakan. Setelah ini, aku tidak yakin apa yang akan terjadi antara aku dan Sugawa.

Itulah mengapa aku harus membuat kesempatan ini sekarang.

Mimpi yang Takigawa gambar di sekolah menengah akhirnya menjadi kenyataan dua tahun kemudian. Aku harus memikirkan Sugawa dengan cara yang sama; bahwa “suatu hari nanti” kami bisa membuat kenangan seperti itu.

Apa yang aku pelajari dari perjalanan ini adalah bahwa suatu hari semua orang akan hidup terpisah dari satu sama lain; sesuatu seperti itu mungkin tidak bisa lagi. Kali ini kami beruntung, dan mampu mengambil gambar, tetapi jika seseorang berpisah, kami tidak akan pernah bisa menciptakan adegan dari mimpi itu. Suatu hari, waktu itu akan datang.

Sekarang mungkin satu-satunya saat bahwa kami dapat mewujudkan impian remaja kami dengan cara ini. Hari itu akan datang ketika kenangan yang kami telah bangun saat masa kanak-kanak kami akan suatu hari berubah menjadi debu dan diterbangkan angin.
Tapi kau lihat, Sugawa. Aku ingin membawa mu keluar dengan ku ke dunia setelah kita menjadi orang dewasa.

Aku ingin membuat kenangan bersama dengan mu kedepannya dari tahun-tahun remaja kita.

Ketika aku hanya memikirkan konsep “suatu hari nanti” … Aku tahu bahwa apapun yang terjadi di masa depan, kami bisa terus bersama-sama.

“Mari kita membuat beberapa kenangan yang baik. Sampai saat itu, menabung beberapa uang, oke? ”

“B-baiklah… tunggu, aku bahkan belum memberi mu respon sebelumnya! Jangan hanya memutuskan hal-hal seperti itu pada mu sendiri! ”

Aku ditendang dengan ringan di kaki bagian bawah. Kekerasannya seperti biasa.

Setelah itu, kami berdua mengeluarkan tangan kami, dan berpegangan tangan dalam perjalanan pulang.

Lima bulan kegigihan. Ini adalah pertama kalinya aku memegang tangan Sugawa; ini kecil, dan lembut.

“Jadi ini adalah bagaimana tangan seorang gadis terasa.”

“Diam… diam dan jalanlah!”

Menjadi sedikit malu, percakapan kami telah mereda ke tingkat yang lebih besar daripada sebelumnya. Namun berkat ini, jumlah kenangan indahku meningkat.

Kenangan ini pasti akan terus terjadi di masa depan.

TAMAT.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s