Onani Master Kurosawa – After Story: Meranjak Dewasa – Bagian 1

Penerjemah : Kronous

Itu terjadi pada pagi yang menyegarkan di hari liburku. Aku diganggu oleh keluhan yang datang dari ponsel ku.

“Bawa aku bersamamu-!”

Itu terdengar seperti ancaman sehingga aku segera menjauhkan ponsel dari telingaku karena teriakannya Sugawa. Kelakuan egois nya itu bukan terjadi baru-baru ini saja, tapi setidaknya, dia bisa melihat kepergianku dengan cara yang lebih ramah pada pagi hari keberangkatanku.

“Kau bilang padaku untuk membawa mu bersamaku, tapi sekarang, bukankah kau kehabisan uang? Dan selain itu, aku sudah merencanakan perjalanan ini sejak lama dengan Takigawa dan yang lainnya…”

“Itu sebabnya aku tidak bisa menerima ini! Kenapa kau tidak berbicara kepada ku tentang sesuatu yang begitu penting? Kapan kau menjadi begitu berani sampai kau bisa diam-diam pergi dengan teman-teman mu dan menikmati perjalanan menyenangkan bersama-sama, bajingan?!”

Kemarahannya Sugawa tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dan bahkan sekarang terdengar seperti decitan dari mikrofon yang bergema. Dalam satu atau lain cara, aku ingin menenangkannya, tetapi jika hal ini berlangsung, itu tampak seperti aku akan terlambat pada waktu yang sudah kami rencanakan. Sekarang, ini sudah waktunya aku harus meninggalkan rumahku.

“Maafkan aku Sugawa, aku akan mendengarkan keluhan mu melalui e-mail nanti, jadi… suvenir seperti apa yang bagus?”

“Kau… apakah kau berencana untuk membujuk ku dengan memberikan ku suvenir?! Kau tidak bisa membodohi ku, tidak bisa membodohi ku!”

Sugawa melanjutkan dengan mengatakan hal-hal seperti “Jangan macam-macam dengan ku! Kita putus! Kita putus!”, Dan sebelum aku bisa mengucapkan sebuah kata untuk membalas, dia menutup teleponnya. Semua yang tersisa hanyalah nada robot.

“Pertengkaran sepasang kekasih di pagi hari? Ya ampun… dan ini bahkan belum pukul 08:00? Tempatkan diri mu dalam posisiku; Kau ingin istirahat dengan tenang pada pagi hari di hari libur, kan?”

Sambil aku mengikat tali sepatuku di ambang pintu, aku merasakan ada yang menusuk di punggungku yang membuat aku menyadari bahwa aku masih mengenakan piyama. Meskipun hari ini seharusnya menjadi hari yang menyenangkan, aku punya perasaan yang terpendam dalam diriku bahkan dari sebelum aku berangkat.

Ketika aku tiba di stasiun di mana kami bertemu, aku melihat, bahwa semua orang kecuali aku sudah ada di sana.

“Kau lambat, Tuan koordinator terlambat-”

Takigawa melambaikan tangannya dan mengundang ku ke dalam lingkaran. Di sampingnya ada Nagaoka dengan senyum yang ramah, dan di setiap sisi mereka berdiri Kitahara dan Pizza-ta, yang masing-masing berdiri di sana dengan cara yang mengingatkan pada patung Bodhisattva.

“Maaf, aku tadi bertengkar saat aku meninggalkan rumahku… maaf membuat kalian menunggu. Selamat pagi, semuanya.”

Ketika aku menundukan kepalaku sedikit, aku bisa melihat semua wajah pada saat mantan tahun ke 3, kelas 3, kelompok D, yang aku belum temui untuk beberapa waktu. Ini adalah pertama kalinya aku melihat semuanya sejak awal tahun ajaran baru.

Sosok jelita Takigawa itu terus membaik, dan Nagaoka tampaknya menumbuhkan keriting yang menyerupai permen kapas. Dan, meskipun ia masih mengenakan pakaian yang tak cocok seperti geng jalanan, Pizza-ta tampak lebih kurus daripada terakhir kali aku melihatnya.

Pertemuan untuk merencanakan perjalanan ini dengan semuanya tidak benar-benar mengambil tempat yang dahulu. Saat itu sekitar dua minggu yang lalu, atau sekitar itu.

Terlepas dari itu, setelah semuanya belum bertemu untuk beberapa waktu, aku punya perasaan bahwa semua orang telah berubah walau sedikit. Di zaman kita, baik untuk pria dan wanita, orang tumbuh dan berubah dalam sekejap mata.

Apakah Kitahara satu-satunya orang yang belum benar-benar berubah sama sekali?
Meskipun tampaknya seolah-olah teman-teman sekelasnya sudah memanggilnya “Kitahara-senpai” sejak tahun pertama sekolah tinggi, dia masih memiliki sosok seperti seekor tupai, dan memakai ekspresi masam di wajahnya yang aku tidak dapat baca. Itu terlihat seperti dia tidak tumbuh sama sekali.

Namun demikian, dalam waktu singkat ini, tidak peduli berapa banyak kami tampaknya telah tumbuh; satu hal yang tidak berubah adalah suasana yang kami miliki sejak sekolah menengah.

—Ketika disekitarnya, entah bagaimana, aku merasa sedikit lebih lega.

“Hmm, karena Kurosawa-dono kini telah tiba, mari kita segera menuju arah Osaka! Ah…, tapi sebelum itu!”

Tiba-tiba mengangkat tinjunya seolah-olah sedang mencoba untuk menembus langit, dan kemudian dengan cepat menurunkannya, Nagaoka mengatakan ini:

“Kita sekarang” mantan “Tahun ketiga, kelas tiga… dan tegasnya, Magistel-dono itu bukan bagian dari kelompok D. Dan* ini bukan SOS-Dan lagi, jadi bukankah kita membutuhkan nama baru?”
TL Note : Dan disini berarti kelompok atau grup.

Tapi itu tampak bahwa itu tadi hanya Kitahara dan aku yang menemukan hal ini menjadi benar-benar konyol. Takigawa dan Pizza-ta yang menekan jari-jari mereka ke mulut mereka seolah-olah mereka telah menghadapi matematika yang sulit, dan sungguh-sungguh berpikir tentang nama tim baru. Mengapa Kitahara dan aku selalu dalam minoritas?

Sambil bertepuk tangan bersama-sama, Takigawa adalah orang pertama yang mengumumkan calon untuk nama tim kami.

“Ah, hei, hei, bagaimana ini terdengar?”

“Hohoho, apa itu?”

“…The Order of the Black Knights!” (Orde Kesatria Hitam!)

Hey, hey, Takigawa. Aku tidak tahu asal-usul nama itu, tapi kedengarannya agak keren… pikirkanlah sesuatu yang lebih normal. Pikiranku bergumam “Tidak mungkin”, tetapi tampaknya aku sekali lagi dalam minoritas.

“Mengagumkan!”

Nagaoka bertepuk tangan, dan dengan satu kata, nama tim kami dengan cepat diputuskan. Bagaimanapun, dengan selera penamaan ini… ini tampak bahwa selera Takigawa itu menjadi lebih seperti Nagaoka, jatuh ke paling intinya. Hal ini mengkhawatirkan.

Dengan demikian, mantan tahun ke 3, kelas 3, kelompok D, lalu SOS-Dan, dan sekarang Orde Black Knights, naik kereta peluru, dan berangkat ke Osaka. Ini hanya satu hari di tengah Golden Week yang menyusul awal tahun kedua kami di sekolah tinggi.

Pada perjalanan sekolah kami dua tahun lalu, kami hanya tinggal selama dua hari dan satu malam di tempat yang kami kunjungi – sebuah perjalanan singkat. Ini adalah impian yang seorang gadis lajang pernah bayangkan; dan pada saat itu, impian yang pernah kumiliki juga. Dua tahun itu waktu yang lama. Aku sangat senang bahwa aku akhirnya bisa menyambut hari ini dengan selamat dan sehat.

Kami tergoyang di dalam kereta api kurang lebih selama tiga jam.

Setelah naik kereta peluru, dan kemudian kereta bawah tanah, Orde Black Knights tiba di Desa Pelabuhan Gunung Tenpou di Pelabuhan Osaka. Ini adalah pertama kalinya setelah kami melihat tempat ini dalam dua tahun. Itu hanya seperti yang dibayangkan; warna langit itu bahkan sama seperti dua tahun lalu – hari yang cerah tanpa awan yang terlihat.

“Ooh-! Pemandangan ini sangat nostalgia! Ini membawa kembali sekilas kenangan dari sekolah menengah~”

Sekarang aku berpikir tentang hal ini, Nagaoka dari dua tahun yang lalu juga gembira dan bermain-main di sekitar seperti anak kecil. Seperti biasa, ekspresi wajah dari Kitahara dan Pizza-ta tetap tidak berubah.

“Ehh~, jadi itu Pelabuhan Osaka. Ini yang pertama kali aku melihatnya, jadi ini sebuah pengalaman baru yang segar.”

Takigawa dengan cepat berpegangan tangan dengan Nagaoka begitu dia melangkah keluar, tanpa ragu-ragu. Seperti yang aku pikir, matanya cerah dan bersinar.

Sekarang aku berpikir tentang hal itu, pada hari kedua perjalanan sekolah, ketika kami berpisah menjadi perkelompok, Takigawa telah pergi dengan Misaki-san untuk mengunjungi distrik lain. Satu-satunya kenangan dari hari kedua terdiri dari: pertama, bagaimana membosankannya itu; dan kedua, urusan merepotkan yang Kitagawa usulkan kepada ku.

“Nah! Dimana yang harus kita akan kunjungi? Akuarium? Atau akankah pusat perbelanjaan?”

Bagaimanapun, Nagaoka tampaknya berada dalam semangat tinggi.

Aku cepat menjadi lelah karena harus duduk pada kursi kereta yang tidak nyaman selama berjam-jam. Akhirnya, aku bisa menghirup udara segar. Aku ingin mengambil istirahat sejenak di sini.

Saat aku memikirkan tentang itu, Pizza-ta diganggu oleh rasa malu menyuarakan pendapatnya ke Nagaoka dan Takigawa, yang tampak seperti mereka hendak kabur.

“Eh, um… Sudah waktunya makan siang sekarang, j-jadi mengapa kita tidak pergi ke restoran…”

Aku setuju. Sampai sekarang, aku belum pernah berterima kasih terhadap Pizza-ta.

Kami makan siang di sebuah restoran Cina, dan kemudian pergi ke akuarium. Ketika kami melewati sebuah terowongan yang mengalir melalui tangki, kami melihat ikan berwarna gemilang.

Sejujurnya, orang seperti ku, yang tidak tertarik pada misteri alam, agak bosan di perjalanan kedua ini untuk akuarium. Terlebih lagi, karena ini adalah hari libur, ada banyak orang lain di sekitar, dan kebisingan dari kerumunan membuat telinga ku sakit. Seperti yang aku pikir; Aku lebih cocok untuk suasana perpustakaan daripada fasilitas besar seperti ini.

Namun, melihat Nagaoka dan Takigawa tersenyum dan berlarian dengan gembira, dengan penuh rasa ingin tahu melihat spesies yang berbeda, seseorang bisa mencerna kejenuhan dan gangguan dari orang banyak.

Ini adalah kedua kalinya aku merasa seperti ini.

Tentunya, ketika kau berada di perjalanan, kau tidak benar-benar membutuhkan tujuan atau semacam emosi. Kau selalu dengan teman-teman mu, dan kau akan selalu melakukan sesuatu yang sedikit berbeda setiap kali. Itu cukup untuk membuat perjalanan yang menarik.

“Kalau begitu, berikutnya adalah kincir raksasa! Magistel-dono, mari kita naik bersama-sama~”

“Tentu saja. Mari dapatkan tampilan yang bagus dari pemandangan Osaka-”

Keluar dari akuarium, pasangan mesra ini membawa kita menuju kincir raksasa, suara mereka penuh antusias.

Tepat di belakang mereka adalah kami bertiga; Kitahara dan aku akhirnya menatap punggung Pizza-ta yang basah karena keringat saat kami berjalan di dalam antrian.

Pada jalur singkat ke kincir raksasa, aku berbisik ke telinga Kitahara tentang sesuatu yang aku telah pikirkan sebelumnya.

“Kitahara, apa kita naik bersama lagi?”

Ia menggelengkan kepalanya seperti anjing mencoba untuk mengeringkan diri dengan mengguncang air dari punggungnya.

“Kenapa aku harus naik kincir raksasa dengan Kurosawa-kun untuk kedua kalinya?”

“Itu yang aku pikir. Aku punya perasaan kau akan mengatakan itu. Nah, kau naik dengan Pizza-ta kalau begitu.”

“Eh?”

“Kau tidak ingin naik dengan ku, kan? Jika itu terjadi, maka datanglah naik bersama-sama dengan Pizza-ta. Sepertinya Nagaoka dan Takigawa yang naik bersama-sama. Aku akan menunggu di luar.”

Saat aku katakan itu, Kitahara menunjukkan ku ekspresi feminin pertama yang ia telah buat sepanjang hari. Itu terlihat benar-benar canggung.

“Kenapa pula itu harus jadi seperti itu?! Mengapa tidak bisa kita bertiga yang naik?”

“Dengan Pizza-ta? Tiga orang? Jangan konyol. Kita akan melampaui kapasitas berat dan kincir raksasa mungkin berhenti.”

“Itu tidak akan terjadi! …Aku serius.”

Yah, karena ini tampak seperti kata singkat ku berisi lebih kurang kebenaran yang tidak menyenangkan, ini tampak seperti aku tidak akan mampu berbicara jalan keluarnya. Ini tidak dapat tertolong; sepertinya tujuan ku tidak akan tercapai.

“…Apakah kau benar-benar sebegitu bencinya pada Pizza-ta?”

Setelah aku bertanya itu, Kitahara merenungkan hal itu, dan menggantung kepalanya karena malu.

“Ini bukan seolah-olah… Aku benci dia… Tapi, bahkan sekarang, kadang-kadang dia membuat aku merasa jijik. Pada akuarium barusan, ketika aku sedang berjalan di depan Seki-kun, aku merasa dia menatap pantatku. Tentu saja, aku bersyukur bahwa dia selalu baik padaku, tapi… Ahh, dia bau seperti keringat… sangat menjijikkan…”

Ah, Pizza-ta, kau begundal, sekarang itu sesuatu yang bisa disebut terhormat. Sebagaimana, aku bisa bersimpati dengan dorongan yang tak tertahankan itu. Berkenaan dengan laki-laki yang bisa dengan sempurna memahami keadaan mereka sendiri dan mengesampingkannya, kau bisa bilang mereka punya cukup keberanian sampai datang sejauh ini melakukan hal-hal tak sopan seperti itu. Dari sekolah menengah dan seterusnya, aku mengerti; Namun, aku tidak bisa memikirkan Kitahara sebagai apapun melainkan orang yang telah terguncang ke inti nya.

Aku sangat senang bahwa percakapan kami tidak pernah sampai ke telinga Pizza-ta. Aku sudah terbiasa dilecehkan dan dihina oleh Sugawa, tetapi jika Takigawa melakukan sesuatu seperti itu padaku, aku mungkin tidak akan pernah pulih.

“Yah, hanya bertahan untuk beberapa saat. Tolonglah, Kitahara, hanya naik kincir raksasa dengan Pizza-ta.”

Jika aku menghina diri, maka kali ini Kitahara akan menatapku dengan mata penuh menyalahkan.

“…Ada apa denganmu? Mengapa kau terobsesi pada Seki-kun dan aku?”

Aku kehilangan kata-kata bagaimana aku akan menjelaskan hal ini. Pada akhirnya, aku menjawab dengan hal ini.

“Hanya karena.”

“…..Kau aneh.”

Aku tidak tahu apakah itu sinyal dari perjanjian atau tidak, tapi segera setelah itu, Kitahara meninggalkan sisi ku dan berjalan menuju Pizza-ta.

Ide gila yang aku usulkan… itu tampak bahwa segala sesuatu dapat menetap dengan cara yang seharusnya, jadi aku bertepuk dada ku dengan lega.

Kembali pada musim dingin tahun ketiga sekolah menengah, aku berdiri di depan semua orang di kelas ku dan meminta maaf atas kejahatan ku. Tapi, untuk satu orang, meskipun ia adalah seorang teman dekat ku, aku telah menyimpan rahasia mengerikan yang tersembunyi darinya.

Selama perjalanan sekolah kami, aku melakukan hal yang mengerikan untuk Pizza-ta.

Itulah mengapa, semakin, aku ingin memberikan nya beberapa kenangan indah dari perjalanan ini.

Keranjang di mana setiap orang naiki terus naik lebih tinggi. Aku pergi ke sebuah bangku terdekat untuk duduk dan menghabiskan waktu luang.

Tangan nganggurku membuka dan menutup ponselku beberapa kali.

Tidak ada indikasi bahwa Sugawa telah mengirimkan balasan pada e-mail yang aku kirim untuknya. Meskipun aku tahu bahwa itu adalah tindakan yang sia-sia, aku terus memeriksa kotak surat ku, dan layar terus menunjukkan “anda tidak memiliki surat baru”. Tampak seperti aku benar-benar membuat kesal Sugawa kali ini.

Ini bukan seolah-olah aku punya beberapa motif tersembunyi atau rasa bersalah; aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan fakta bahwa aku akan melakukan perjalanan ini dari Sugawa. Hanya saja aku agak, untuk beberapa alasan atau lainnya, kehilangan kesempatan untuk menceritakan tentang hal itu.

Meskipun kita seharusnya berkencan, itu tidak seperti kita tetap berhubungan dengan satu sama lain setiap hari. Aku tidak benar-benar memahami jadwalnya sama sekali. Sejak awal, meskipun kami sudah pacaran selama lima bulan, kami bahkan belum berciuman atau begitu banyak seperti berpegangan tangan. Jika hal ini terus seperti ini, aku tidak akan pernah bisa meminta untuk menyentuh payudara seksi yang membuat aku ngiler ketika aku mulai berpikir tentang mereka.

Kami masih pada tahap itu.

Meski begitu, aku tidak berpikir ia tampak seperti tipe yang akan jengkel atas hal-hal sepele seperti seperti itu.

“Aku hanya tidak mengerti hati seorang gadis…”

Kata-kata itu seketika muncul keluar dari mulut ku. Itu terdengar seperti sesuatu yang ‘seorang yang puas dengan kehidupan mereka’ katakan. Itu membuatku tertawa, meskipun aku hanya seorang yang suram, anak tertutup menyebalkan…

Tak lama, semua orang turun dari kincir raksasa dalam kelompok.

“Bagaimana? Apakah itu menyenangkan?”

Saat aku bertanya, Takigawa mengenakan senyum yang dipaksakan dan menjawab, “Uh, yeah. Pemandangan itu bagus.”

…Ada sesuatu yang aneh di sini.

Aku merasa nuansa baru kecanggungan yang tidak hadir dalam gadis itu di sini lima belas menit yang lalu. Bahkan Nagaoka, yang memiliki wajah senyum sales, entah bagaimana memiliki tawa canggung. Orang-orang ini begitu ceria sebelum mereka naik ke kincir raksasa. Aku juga tidak berpikir mereka memiliki takut ketinggian atau apa pun.

Melihat mereka sekarang, mereka tampak seperti benar-benar orang asing dibandingkan dengan sebelumnya. Itu tampak seperti aku akan mendengar desahan setiap saat. Mereka seolah tampak seperti ada awan tebal yang mengambang di bagian atas kepala mereka.

…Apa terjadi pada kincir raksasa?

Di sisi lain, Kitahara dan Pizza-ta memiliki wajah tanpa ekspresi yang sama seolah-olah mereka diambil dari lukisan. Aku ingin bertanya pada mereka apakah mereka pernah merasakan emosi sama sekali.

Dalam perjalanan ke tujuan berikutnya, aku dengan ragu berbisik kepada Kitahara, bertanya tentang pendapatnya. Seperti yang aku duga, dia begitu saja menjawab seperti aktris tertentu, “Tidak ada yang khusus.” Namun, aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutan ku di kata-kata berikutnya yang keluar dari mulutnya.

“…Seki-kun pindah ke Kyoto tahun depan.”

“Eh?”

Entah bagaimana, aku merasa khawatir, seolah-olah ada tenaga yang kuat sudah mencengkeram dadaku.

“…Mengapa dia melakukan itu?”

“Aku tidak tahu. Sepertinya ada sebuah perusahaan animasi terkenal di Kyoto. Dia bilang dia akan menghadiri sekolah pelatihan pro. Aku tidak benar-benar tahu secara spesifik. Kenapa kau tidak menanyakannya sendiri?”

Kebetulan, aku melihat pada punggung Pizza-ta, yang berjalan beberapa langkah di depan aku dan Kitahara. Punggungnya tidak berubah dari biasanya, dan bermandikan keringat. Namun, dari itu, aku tidak bisa benar-benar membaca apa yang ada di hatinya.

Aku cukup yakin bahwa Nagaoka dan Takigawa tidak tahu bahwa Pizza-ta akan meninggalkan kampung halamannya. Jika dia memberitahu yang lain, itu akan sudah sampai ke telingaku, lagipula.

Aku ingin tahu emosi apa yang mendorong Pizza-ta untuk memberitahukan hal ini kepada Kitahara.

Aku ingin bertanya kepadanya tentang hal itu, tapi dengan sesuatu yang sebegini penting, tidak mungkin aku bisa menggunakan informasi kedua pihak sebagai dasar untuk pertanyaan-pertanyaan.

Sejak mereka turun dari kincir raksasa; Entah bagaimana, situasi antara Nagaoka dan Takigawa telah berubah menjadi lebih buruk, dan Pizza-ta menyembunyikan suatu hal yang penting dalam hatinya dengan wajah lurus…

———Dari berbagai cara yang dilihat, tampak bahwa perjalanan ini tidak akan berakhir pada perjalanan bahagia.

Sebagaimana malam dilanjutkan di Desa Amerika (Amerikamura), dan kami membuat lingkar perjalanan menuju Dotonbori, cara Nagaoka dan Takigawa berperilaku tampak aneh. Meskipun mereka menempel saat mereka berjalan di mana-mana, itu nampak hampir seperti kecanggungan, kinerja amatir. Jika kau memintaku untuk memberitahumu secara konkret apa yang salah dengan mereka, aku tidak akan bisa menjawab. Namun, untuk mataku, aku bisa melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan keduanya.

Pada perjalanan sekolah, tampaknya bahwa kelompok Takigawa datang ke Desa Amerika pada hari kedua, dan mereka menghabiskan hari dengan belanja disekitar Distrik Horie. Walau begitu, meskipun saat ini kita tidak terikat oleh pembatasan seperti pada perjalanan sekolah, ia tetap memutuskan untuk datang ke Desa Amerika.

“Ada toko yang menjual kue lilit di sudut yang tertangkap mataku. Pizza-ta, ingin pergi membeli beberapa?”

“Nah, aku tak mau… aku diet…”

“Oh. Pizza-ta, ada seorang pria menjual beberapa pakaian hiphop orang kulit hitam di sana. Bukankah kamu tidak menyukai hal semacam itu?”

“Aku tak mau… Saat ini anak nakal di Jepang bahkan tidak akan memakai BAPE dan Stussy….”

Sial. Bahkan setelah berbicara dengan Pizza-ta, dia tidak akan memperluas topik pembicaraan. Dan serius, dia adalah tipe cowok yang berbicara tentang fashion… Bagaimana aku harus menempatkan ini; biasanya, menyela percakapan tidak akan menjadi masalah, tapi dengan Pizza-ta, dia orang yang tidak akan benar-benar terjebak dalam percakapan bahkan ketika kau dengan sengaja mencoba untuk menariknya masuk.

Setelah mengatakan ini, Nagaoka dan Takigawa punya suasana yang di sekitar mereka yang membuat percakapan serampangan sukar, dan Kitahara itu pendiam, seperti biasa. Apa yang harus aku lakukan?

Jika Sugawa datang ke sini, dia akan merasakan cukup banyak di rumah, dan berada dalam semangat yang tinggi…

Ketika aku memikirkan itu, aku mulai merindukannya.

Saat sudah gelap, kami pergi ke The Food Theme Park (Taman Hiburan Pangan) di dalam Dotonburi dan makan okonomiyaki; setelah itu, kami pergi ke hotel. Di sanalah aku melihat pemandangan langka.

…Nagaoka dan Takigawa bertengkar.

Malam itu, kami tinggal di sebuah hotel di mana kami telah membuat reservasi. Berbeda dengan murahnya sebagai rencana pembayaran berorientasi mahasiswa, itu adalah hotel yang bagus. Kamar khas yang sempit dan kotor seperti itu tak bisa ditemukan.

Tampak seperti kita bisa memperoleh tidur malam yang baik dan damai di sini.

Atau begitulah kupikir. Bahkan setelah lampu dimatikan, aku tidak bisa benar-benar tertidur.

Meskipun pikiran dan tubuh ku keduanya sudah letih mulai sejak awal, ketegangan dari pemikiran tentang hal-hal mengenai Nagaoka dan Pizza-ta menjagaku dari jatuh tidur.

Pada akhirnya, ketika kami berlanjut ke hari berikutnya, aku berakhir tidak menerima balasan dari Sugawa. Itu juga agak menggangguku.

Semakin aku berpikir tentang mencoba untuk tidur, semakin aku tidak bisa menenangkan diri. Aku akhirnya menjatuhkan diri di sekitar di atas tempat tidurku beberapa kali. Akhirnya tirai jatuh di otakku, dan inderaku mulai memudar. Saat itu, aku mendengar suara gemerisik di sampingku. Aku membuka mataku sedikit untuk melihat Nagaoka bangun dari tempat tidurnya.

Pada awalnya aku pikir bahwa ia akan ke toilet, jadi aku terus tenang dan akan mengabaikan hal itu, tetapi tampaknya Nagaoka punya tujuan yang berbeda dalam pikiran. Dia mengambil langkah lembut agar tidak membangunkan Pizza-ta dan aku, membuka pintu, dan menuju ke lorong.

Ketika aku melihat sub-tampilan ponsel di samping tempat tidurku, aku melihat bahwa itu sekitar 01:00. Nagaoka berandal itu, ia pura-pura tidur dan menunggu aku dan Pizza-ta tertidur.

Aku penasaran, jadi aku mengikuti Nagaoka keluar dari ruangan. Aku tidak melihat sosoknya di lorong, tapi ada kemungkinan bahwa ia pergi ke lobi lantai pertama, jadi aku akan naik lift dan mencobanya.

Saat aku keluar dari lift dan berbelok ke pintu masuk, untuk beberapa alasan aku melihat Kitahara disana. Dengan semestinya, ia seharusnya berada di kamarnya dengan Takigawa. Namun, dia mengenakan yukata longgar yang terseret di lantai, dan menempel ke dinding hampir seolah-olah dia seorang mata-mata.

“Hei Kitahara, apa yang kau lakukan disin-…”

Saat aku berbicara dan mendekat padanya, ia meletakkan jari ke mulutnya dan mengoreksi ku dengan singkat, “SHH!”

“Takigawa-san dan Nagaoka-kun berada di lobi. Jika kau berbicara, mereka akan melihat.”

Menguping merupakan selera buruk. Meskipun, bukankah ini apa yang aku lakukan di sini sejak awal?

“Takigawa-san tiba-tiba bangun di tengah malam dan meninggalkan ruangan. Aku penasaran, jadi aku mengikutinya,” itulah bagaimana Kitahara menjelaskan situasi ini. Astaga, pikiran pertama kami itu persis sama.

Aku menjulurkan kepalaku dari belakang Kitahara untuk dapat mengintip dengan baik pada lobi yang menghadap pintu masuk. Takigawa dan Nagaoka duduk saling berhadapan di salah satu meja lingkaran di sudut yang berbaris merata. Mereka berdua memiliki wajah yang serius, dan untuk beberapa alasan tampak seperti mereka sedang bertengkar.

“Apa yang terjadi di sini?”

Ketika aku bertanya dengan suara tenang, Kitahara menabrak sikunya ringan ke sisi ku.

“Jika kau memperhatikan, kau akan mengerti. Dan, jangan begitu dekat dengan ku, itu menganggu ku. ”

“Ah, uh… salah ku.”

Seperti yang kau katakan, aku akan segera menjauh, dan berkonsentrasi pada mendengarkan.

Selain dari resepsionis di dalam pintu masuk, tidak ada tanda-tanda lain dari kehidupan di lobi; suara yang sampai ke telinga ku hanya ledakan tiba-tiba salon musik. Lalu, aku jelas mendengar percakapan Nagaoka dan Takigawa di kejauhan.

“Aku… Aku tidak ingin ini! Aku tidak ingin lepas dari Takigawa-dono!”

“Aku sudah bilang berkali-kali sudah, tidak seperti kita putus. Ini tidak seperti kita tidak akan pernah bertemu lagi…”

“T, tapi!”

Keadaan tidak tampak begitu baik.

Setelah mendengarkan sebentar, aku mendapat pemahaman pada situasi.

Tampaknya, sore ini di kincir raksasa, Takigawa membuat jenis pengakuan yang sama seperti Pizza-ta. Dengan kata lain, pada saat yang sama dengan kelulusan SMA-nya, ia akan pindah ke prefektur lain.

Mirip dengan keinginan Pizza-ta untuk menjadi seorang animator, Takigawa juga bermimpi bahwa di masa depan ia akan bisa mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan fashion dan aksesoris. Untuk membuat impian itu menjadi kenyataan, tampaknya dia akan pindah ke tempat di mana dia bisa belajar pada tingkat yang lebih tinggi. Namun, sepertinya kekasihnya Nagaoka tidak menyetujui.

Sebuah negosiasi antara cinta dan mimpi, eh? Begitu, sekarang aku mengerti sedikit mengapa semua merasa begitu canggung sore ini.

“Apa yang kau pikir?”

Kitahara dengan yukata yang terseret tiba-tiba menanyakan hal ini kepadaku.

Bagaimana bagiku… hmm.

Jika aku berdiri di posisi mereka, maka akan mudah dimengerti. Jika Sugawa telah mengatakan hal yang sama seperti yang Takigawa lakukan, aku tidak memiliki keyakinan untuk secara jujur mendukung impian itu. Jika dia pergi ke suatu tempat yang jauh yang aku tidak ketahui, aku tidak akan hanya menjadi kesepian. Aku akan tersiksa oleh kesedihan tak terduga.

Jika kita hidup terpisah, tali yang mengikat kita bersama-sama sekarang pasti akan hancur suatu hari nanti. Aku bisa melihatnya mendapati dengan cowok lain yang disukai di lokasi yang baru. Aku tidak punya keyakinan bahwa aku akan mampu mengikat perasaannya.

“Aku akan mendukung mimpi Takigawa. Tapi, aku juga memahami perasaan Nagaoka.”

——Selain itu, jika Takigawa pergi, aku akan sedih.

Setelah aku menjawab, Kitahara memasang wajah tampak bosan dan mengatakan ini.

“…Aku setuju dengan Takigawa-san. Rasain tuh. Jika melihat mereka berdua putus akan cukup menjadi tontonan.”

…Gadis ini luarbiasa.

Apakah dia masih memiliki beberapa perasaan tersisa tentang ditolak, dan untuk orang ini yang dicuri darinya? Yah, aku tidak benar-benar berpikir itu terjadi, tapi… Bagaimanapun, daripada tidak jujur, aku tidak bisa menganggap ini lebih dari sekedar cara penalaran yang menyesatkan.

“Aku bosan menonton, dan aku ingin buang air kecil, jadi aku akan kembali ke kamarku. Kurosawa-kun, berhati-hatilah untuk tidak tidur terlalu larut…”

Setelah mengatakan itu, Kitahara menepuk bahuku dan berjalan ke arah lift. Dia mungkin sarkastik, tapi dia mungkin berpikir bahwa itu mungkin lebih baik untuk tidak keterusan menguping pada percakapan pribadi teman-teman kita lebih dari ini.

Aku mengikuti Kitahara, dan tak lama kemudian menaiki lift.

Meskipun, setelah aku kembali ke kamar, aku terus-menerus khawatir tentang mengapa Nagaoka tidak datang kembali, dan tidak bisa benar-benar tidur.

Pada akhirnya, Nagaoka dan aku akhirnya berakhir jatuh tertidur sekitar 2:30 AM.

 

P.S. Novel ini berlanjut ke part 2.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s